Nikutai no Mon (Gate of Flesh) – 1964

Apa Anda pernah membayangkan kehidupan masyarakat di Jepang pasca WWII? Jika tidak, film ini bisa membantu Anda membayangkan kerasnya hidup masyarakat Jepang saat itu. Film Nikutai no Mon (Gate of Flesh, Gerbang Daging), adalah film hasil adaptasi novel Taijiro Tamura. Film ini menceritakan sekumpulan pelacur di Kanto dengan anggota baru mereka, Maya, dan seorang perampok, Shintaro. Film ini berlokasi di salah satu kota kecil di daerah Kanto, dekat pangkalan militer US pasca WWII.

GATE OF FLESH (1964) -Original title: NIKUTAI NO MON-, directed by SEIJUN  SUZUKI. Credit: NIKKATSU CORPORATION / Album Stock Photo - Alamy

Poster film Nikutai no Mon (1964)

Lanjutkan membaca “Nikutai no Mon (Gate of Flesh) – 1964”

Houichi yang Tak Bertelinga (Mimi-nashi Houichi)

Cerita ini disarikan dari seri animasi Folktales from Japan episode 72 bagian 1, dengan perubahan.

Lebih dari 700 tahun yang lalu, kira-kira berdekatan dengan jatuhnya klan Taira (Heike) di perang Dan no Ura, hiduplah seorang pemain biwa muda yang bernama Houichi. Houichi tinggal di kuil di Akamagaseki, bersama seorang biksu kepala yang juga teman akrabnya, dan para muridnya.

Hoichi dan biwa-nya
Lanjutkan membaca “Houichi yang Tak Bertelinga (Mimi-nashi Houichi)”

Mengenai seorang biksu berbudi luhur yang mengikuti ajaran Buddha, dan mendapatkan ganjaran kebaikan yang luar biasa

Cerita ini disarikan dari terjemahan Nihon Ryoiki oleh Burton Watson, dengan perubahan.

Pada masa pemerintahan Kaisarina Jito, tersebutlah seorang ahli meditasi dari Paekche, Korea yang bernama Tara. Dia tinggal di Kuil Hokiyama di distrik Takechi. Biksu tersebut menjalani kesehariannya dengan disiplin yang tinggi. Pun, dia berbelas kasih merawat orang-orang sakit payah sampai sehat kembali. Dengan perawatan dan doanya yang mujarab, mereka pun berangsur-angsur membaik.

Suatu hari, biksu ini mendaki suatu bukit dengan dua tongkat. Dia memanfaatkan dua tongkat itu sedemikian rupa sehingga tongkat yang satu mendukung yang lain, seperti pahat di bukit yang curam.

Kaisarina Jito sangat menghormati biksu ini dan sering mengirimkan persembahan ke kuilnya. Demikian pula masyarakat sekitar, yang juga menghormati dan sering mengunjungi kuil sang biksu. Demikian kita tahu, bahwa sang biksu memiliki reputasi baik karena cara hidupnya yang luhur. Welas asih seseorang akan selalu diingat dan dimuliakan, bahkan hingga kini.

Nihon Ryoiki (1:26)

Kunjungan ke Pameran Karya Utamaro di Kraków, Polandia

Halo semuanya! Pada kesempatan kali ini saya ingin membagikan pengalaman saya mengunjungi pameran karya Utamaro di Museum Nasional Kraków di Polandia awal bulan April 2025. Pameran ini sifatnya sementara, jadi hitung-hitung tulisan ini sekalian untuk dokumentasi.

Siapa Utamaro?
Menurut Wikipedia, Utamaro merupakan seorang pelukis ukiyo-e ternama dari abad ke-18. Ia dikenal luas melalui karya-karyanya yang menggambarkan sosok wanita cantik serta gambar pemandangan dengan serangga. Karya-karya Utamaro mulai dikenal di Eropa pada pertengahan abad ke-19 dan mendapat sambutan yang cukup positif, terutama di Prancis. Gaya lukisnya yang khas—menampilkan sebagian objek saja (partial view) serta penekanan pada permainan cahaya dan bayangan—ditiru oleh para pelukis Eropa pada masa itu.

Lukisan potret Utamaro (sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Utamaro)
Lanjutkan membaca “Kunjungan ke Pameran Karya Utamaro di Kraków, Polandia”

Kunjungan ke Museum Manga Jepang dan Pameran Tale of Genji di Kraków, Polandia

Halo semuanya! Berhubung saya sedang malas menulis topik serius, kali ini saya ingin membagikan pengalaman saya mengunjungi pameran Tale of Genji tahun lalu. Sebenarnya kunjungannya sudah hampir setahun yang lalu, tapi saya baru mau dokumentasi, ahahaha. Maaf ya. From my side it was kind of emotional tho, because my last time visiting Tale of Genji exhibition was in Japan in 2017. 7 tahun kemudian saya dapat kesempatan berkunjung lagi ke pameran serupa, tapi di Polandia. Hidup memang aneh. 🙂

Lanjutkan membaca “Kunjungan ke Museum Manga Jepang dan Pameran Tale of Genji di Kraków, Polandia”

Kunjungan ke Pameran Cahaya Van Gogh di Kraków, Polandia

Halo semuanya! Maaf ya saya belakangan cuma menulis topik terkait kunjungan ke berbagai pameran, lagi malas nulis serius, ahaha. Setidaknya bisa buat dokumentasi, soalnya nanti di masa depan saya pasti lupa. 😀 Saya sebenarnya ke sana bulan September 2024 lalu, tapi baru ditulis sekarang. Nggak papa ya, hitung-hitung isi kuota tulisan di blog. 🙂

Tiruan kamar Van Gogh
Lanjutkan membaca “Kunjungan ke Pameran Cahaya Van Gogh di Kraków, Polandia”

Polling

Halo semuanya! Di sini saya hanya ingin melakukan jajak pendapat singkat, kalau ada yang mbaca tulisan ini, ahahaha. Langsung saja: tulisan apa yang paling ingin kalian lihat di blog saya?

Ngomong-ngomong saya juga ingin mengucapkan, selamat tahun baru 2025! Semoga tahun ini menjadi tahun yang baik bagi kita semua, ya. 🙂

Ramalan di Zaman Heian: Ramal Cangkang Kura

Halo semuanya! Setelah membahas teknik meramal dengan tulang, pada kesempatan kali ini penulis ingin membahas teknik ramalan lain yang lebih populer di zaman Heian, yaitu dengan cangkang kura-kura (kiboku 亀卜).

Contoh penampakan sisi luar cangkang kura-kura yang pernah dipakai untuk meramal. Sumber: https://ja.wikipedia.org/wiki/%E4%BA%80%E5%8D%9C
Lanjutkan membaca “Ramalan di Zaman Heian: Ramal Cangkang Kura”

Ramalan di Zaman Heian: Ramal Tulang

Halo semuanya! Pada kesempatan kali ini, saya ingin mengajak Anda untuk membahas lebih dalam mengenai salah satu teknik ramalan yang cukup populer di awal zaman Heian, yaitu ramal tulang (rokuboku 鹿卜, futomani 太占, taizou 太兆, kotsuboku). Teknik ini dianggap sebagai metode standar meramal di awal zaman Nara, dan bahkan sudah ada sejak zaman Yayoi.

Tulang rusa yang digunakan untuk meramal dengan teknik ramal tulang di Jepang waktu lampau
Contoh tulang rusa yang digunakan untuk divinasi, digali dari Gua Maguchi di Semenanjung Miura. Sumber: Kanagawa museum https://x.com/kanagawa_museum/status/1523852826627084288
Lanjutkan membaca “Ramalan di Zaman Heian: Ramal Tulang”